Sabtu, 23 Agustus 2008

Sekilas Perjalanan Politiku



Sejarah Pendirian Partai Kebangkitan Bangsa (PKB)

Pada tanggal 21 Mei 1998, Presiden Soeharto lengser keprabon sebagai akibat desakan arus reformasi yang kuat, mulai yang mengalir dari diskusi terbatas, unjuk rasa, unjuk keprihatinan, sampai istighosah dan lain sebagainya. Peristiwa ini menandai lahirnya era baru di Indonesia, yang kemudian disebut era reformasi. Sehari setelah peristiwa bersejarah itu, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mulai kebanjiran usulan dari warga NU di seluruh pelosok tanah air. Usulan yang masuk ke PBNU sangat beragam, ada yang hanya mengusulkan agar PBNU membentuk parpol, ada yang mengusulkan nama parpol. Tercatat ada 39 nama parpol yang diusulkan. Nama terbanyak yang diusulkan adalah Nahdlatul Ummah, Kebangkitan Umat dan Kebangkitan Bangsa.

Ada juga yang mengusulkan lambang parpol. Unsur-unsur yang terbanyak diusulkan untuk lambang parpol adalah gambar bumi, bintang sembilan dan warna hijau. Ada yang mengusulkan bentuk hubungan dengan NU, ada yang mengusulkan visi dan misi parpol, AD/ART parpol, nama-nama untuk menjadi pengurus parpol, ada juga yang mengusulkan semuanya. Di antara yang usulannya paling lengkap adalah Lajnah Sebelas Rembang yang diketuai KH M Cholil Bisri dan PWNU Jawa Barat. Dalam menyikapi usulan yang masuk dari masyarakat Nahdliyin, PBNU menanggapinya secara hati-hati. Hal ini didasarkan pada adanya kenyataan bahwa hasil Muktamar NU ke-27 di Situbondo yang menetapkan bahwa secara organisatoris NU tidak terkait dengan partai politik manapun dan tidak melakukan kegiatan politik praktis. Namun demikian, sikap yang ditunjukan PBNU belum memuaskan keinginan warga NU. Banyak pihak dan kalangan NU dengan tidak sabar bahkan langsung menyatakan berdirinya parpol untuk mewadahi aspirasi politik warga NU setempat. Diantara yang sudah mendeklarasikan sebuar parpol adalah Partai Bintang Sembilan di Purwokerto dan Partai Kebangkitan Umat (Perkanu) di Cirebon.

Akhirnya, PBNU mengadakan Rapat Harian Syuriyah dan Tanfidziyah PBNU tanggal 3 Juni 1998 yang menghasilkan keputusan untuk membentuk Tim Lima yang diberi tugas untuk memenuhi aspirasi warga NU. Tim Lima diketuai oleh KH Ma'ruf Amin (Rais Suriyah/Koordinator Harian PBNU), dengan anggota, KH M Dawam Anwar (Katib Aam PBNU), Dr KH Said Aqil Siradj, M.A. (Wakil Katib Aam PBNU), HM Rozy Munir,S.E., M.Sc. (Ketua PBNU), dan Ahmad Bagdja (Sekretaris Jenderal PBNU). Untuk mengatasi hambatan organisatoris, Tim Lima itu dibekali Surat Keputusan PBNU.

Selanjutnya, untuk memperkuat posisi dan kemampuan kerja Tim Lima seiring semakin derasnya usulan warga NU untuk menginginkan partai politik, maka pada Rapat Harian Syuriyah dan Tanfidziyah PBNU tanggal 20 Juni 1998 memberi Surat Tugas kepada Tim Lima, selain itu juga dibentuk Tim Asistensi yang diketuai oleh Arifin Djunaedi (Wakil Sekjen PBNU) dengan anggota H Muhyiddin Arubusman, H.M. Fachri Thaha Ma'ruf, Lc., Drs. H Abdul Aziz, M.A., Drs. H Andi Muarli Sunrawa, H.M. Nasihin Hasan, H Lukman Saifuddin, Drs. Amin Said Husni dan Muhaimin Iskandar. Tim Asistensi bertugas membantu Tim Lima dalam mengiventarisasi dan merangkum usulan yang ingin membentuk parpol baru, dan membantu warga NU dalam melahirkan parpol baru yang dapat mewadahi aspirasi poitik warga NU.

Pada tanggal 22 Juni 1998 Tim Lima dan Tim Asistensi mengadakan rapat untuk mendefinisikan dan mengelaborasikan tugas-tugasnya. Tanggal 26 - 28 Juni 1998 Tim Lima dan Tim Asistensi mengadakan konsinyering di Villa La Citra Cipanas untuk menyusun rancangan awal pembentukan parpol. Pertemuan ini menghasilkan lima rancangan:

Pokok-pokok Pikiran NU Mengenai Reformasi Politik, Mabda' Siyasiy, Hubungan Partai Politik dengan NU, AD/ART dan Naskah Deklarasi.


Ketika reformasi bergulir pada tahun 1988, dunia perpolitikan indonesia berubah drastis, dimasa orde baru partai politik hanya di batasi tiga (3) parpol berubah menjadi multi partai, salah satunya adalah Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), ketika itu saya masih belum paham atau masih muallaf dalam hal dunia politik, di awali dari pengurus ranting, waktu itu saya menjabat sebagai Sekretaris Dewan Tanfidz ranting Sumbertanggul Kecamatan Mojosari. Pada pemilu 1999 suara PKB di mojokerto cukup banyak untuk partai baru waktu itu PKB mempunyai empat belas (14) wakil di DPRD Kabupaten Mojokerto, menempati urutan ke dua setelah PDIP, karena PDIP waktu itu Mempunyai enam belas (16) wakil di DPRD Kabupaten Mojokerto. Dan pada pemilu 2004 partai kebangkitan bangsa menduduki urutan pertama untuk perolehan suara di kabupaten mojokerto yakni mempunyai sebelas wakil di DPRD kabupaten Mojokerto walaupun secara perolehan kursi menurun, karena pada pemilu 2004 banyak partai baru yang memperoleh kursi/wakil di DPRD.

Setelah malang melintang di dunia politik praktis, kini aku mendapat kesempatan untuk menjadi calon legislatif dari partai Kebangkitan Bangsa (PKB) periode 2006-2011. Namun sayangnya masih diurutan ke 6.

Minimal untuk sosialisasi ke masyarakat mojokerto..ya apalah salahnya. Namun siapa tahu nasib baik di pihakku dan mendapatkan simpati masyarakat untuk menjadi wakilnya di DPRD Mojokerto, ya..aku syukuri. Nah sekarang ini, hal yang paling penting untuk kulakukan adalah dekat dengan konstituenku di wilayah pemilihanku yaitu kecamatan Ngoro, Pungging dan Mojosari. Karena calon bisa dipilih berdasarkan nama dan gambar siapa tahu, kedekatanku dengan masyarakat berbuah hasil simpati.

Tapi yang paling penting adalah bagaimana mengemban amanah rakyat yang kian kritis dan acuh terhadap politik. Terutama mereka yang selama ini merasa dikhianati oleh pemimpin mereka. Mengebalikan kepercayaan yang sudah luntur dan memberikan hari cerah untuk hari esok buat mereka adalah impian dan harapanku.

moga-moga aku bisa jadi pemimpin yang jujur penuh amanah, dan dicintai oleh masyarakatku
Amieen. Tapi bagi siapun yang berdomisili di daerah Ngoro, Mojosari dan Pungging jangan lupa ya...dukung aku. Pilih Sulisno S.Pd.I pasti amanah!

0 komentar: