Minggu, 24 Agustus 2008

Jika Bukan Karena Pertolongan Allah

Jika Bukan Karena Pertolongan Allah, 2009 Akan Chaos

Ditulis Oleh Red / Progress

Kamis, 26 September 2007

Mocopat Syafaat 17 September 2007

Tidak seperti biasanya, Mocopat Syafaat yang bertepatan dengan bulan Ramadhan ini, 17 September 2007 di komplek TKIT Alhamdulillah Tamantirto Kasihan Bantul, lebih banyak dipandu oleh Dr. Harwanto Dahlan. Acara yang diawali oleh penampilan grup musik sholawat dari Maiyah Cibling Jambidan Banguntapan Bantul dan kelompok setia Ibu-ibu Khadijiah ini berlangsung menarik, lebih-lebih lantaran KiaiKanjeng tampil dengan banyak lagu-lagunya, dan dipandu langsung oleh Vokalis Islamiyanto dan Seteng. Di antaranya, KiaiKanjeng mempersembahkan Khauf (oleh Imam Fatawi), An-nabi Shollu, Wa Jibrilu, Tembang Setan yang penuh sindiran, dangdut Kunanti-Nanti dan Rindu Wajahmu, dan beberapa tembang lainnya yang mendapat apresiasi khas jamaah Mocopat Syafaat.

Di tengah-tengah penampilan KiaiKanjeng, Dr. Harwanto Dahlan tampil memandu acara diselingi singkatan-singkatannya (baca: plesetan) yang cerdas dan bernas. Pak Harwanto segera mempersilakan dua orang tamu Mocopat Syafaat malam itu yaitu Pak Sudir dan Pak Fatoni, keduanya adalah lurah. Pak Sudir adalah lurahnya sedulur sikep Pati yakni Desa Baturejo Sukolilo Pati dan Pak Fatoni adalah lurah Desa Jambidan Banguntapan Bantul yang tak lain adalah lurah termuda di Indonesia. Kedua tamu ini mewakili Asosiasi Perangkat Desa Indonesia dan kepada jamaah mereka memaparkan persoalan-persoalan ketidakadilan ekonomi, politik, dan budaya. Tak lupa, mereka menyampaikan visi-misi Asosiai Perangkat Desa Indonesia, di antaranya meningkatkan kapasitas, skill, dan pemahaman tentang hak dan kewajiban kepala desa serta melakukan pengawasan pemerintahan desa dengan terbentuknya badan pemusyarakatan desa. Ke depan, mereka berorientasi untuk menciptakan 'one village, one product'.

Solusi yang mereka tawarkan adalah kembali bangga menjadi anak desa. Secara khusus Pak Sudir berbicara tentang sejarah kepemimpinan di Indonesia, dari soal lurah, demang, dan jogoboyo, di mana saat ini sudah tidak ada law enforcement melainkan law impossible. Ia juga memaparkan makna ungkapan wong Jowo gari separo, wong Cino gari sejodo. Dalam tafsir Pak Sudir, gari separo itu artinya tidak utuh, tidak jangkep alias stress, bingung, dan lain-lain akibat berbagai ketidakadilan yang menimpa mereka. Sementara itu, gari sejodo itu artinya kayak nganten (pengantin): isinya senang-senang yakni karena meruyaknya kapitalisme. Intinya, mereka berdua ingin mengajak semua hadirin untuk membangun kembali Indonesia lewat desa dengan segala kearifannya yang bahkan lebih dulu ada ketimbang Negara Indonesia.

Di sela-sela uraian kedua Lurah ini, Pak Harwanto mempersilakan Mbah Surip yang jauh-jauh datang dari Jakarta. Sungguh eksentrik pembawaan Mbah Surip "I Love You Full". Kali ini Mbah Surip membawakan lagu Tembok Bolong dan tidak ketinggalan lagu hit-nya Bangun Tidur, Tidur Lagi.... yang mendapat sambutan meriah dari para Jamaah. Dan usai Mbah Surip, Mbah Novia Kolopaking tampil dengan lagu Sebelum Cahaya yang tak lain adalah lagu hit Letto dalam album terbarunya Don't Make Me Sad yang kini sudah dihapal banyak orang dari ibu-ibu hingga anak-anak. Setelah itu, dari arah belakang panggung Cak Nun hadir. Tampil di seperempat terakhir dari keseluruhan acara, Cak Nun seperti hendak memanfaatkan waktu seefisien mungkin. Setelah mengawalinya dengan melantunkan ayat-ayat terakhir surat al-Hasyr, Cak Nun langsung menyampaikan beberapa hal mendasar. Pertama, apa yang disampaikan dua orang

lurah tadi terkait erat dengan apa yang disampaikan dirinya sekitar dua bulan lalu bahwa nasib Indoensia ke depan lebih banyak bergantung pada lurah-lurahnya. Cak Nun mengingatkan mereka untuk tetap memperhatikan banyaknya variabel yang potensial memegaruhi sukses tidaknya agenda perjuangan mereka. Kedua, sepertinya terkait dengan lagu Sebelum Cahaya, Cak Nun menguraikan bahwa cahaya itu anggapan ilusif kita. Cahaya adalah konsep dasar yang melahirkan benih, tumbuh, buah, dan ekosistem.

Ketiga, Cak Nun mengajak para hadirin untuk melakukan pemetaan sederhana melalui ayat-ayat Al-Quran (al-Hasyr 18-24) untuk lebih mengenali posisi misalnya, di mana Allah, malaikat, setan, manusia, negara, dan seterusnya. Pemetaan ini sangat penting bagi pekerjaan dan pemahaman kita sehari-hari atas fenomena yang kerap kita hadapi. "Setiap gempa mengumumkann apa kita lakukan, tetapi kita tidak punya tradisi untuk titen terhadap semua itu," urai Cak Nun menafsir innallaha khobirun bima ta'malun (Sesunggguhnya Allah mengabarkan apa yang kalian lakukan) yang merupakan bagian dari ayat-ayat terakhir surat Al-Hasyr yang di awal dilantunkan secara khas oleh Cak Nun. Terakhir, Cak Nun menengarai bahwa selama ini agenda kita cuma satu: POLITIK. Apa-apa mesti kembali ke politik. Tidak ada yang berpikir tentang pangan, tak ada yang berpikir tentang petani. Padahal para petani di kawasan tropis ini berpotensi untuk kaya dan sejahtera karena demand untuk bahan pangan terus meningkat sampai terciptanya equilibrium di bidang pangan, tetapi perangkat negara tak punya agenda untuk itu. Cak Nun mensinyalir bahwa saat ini yang terjadi adalah krisis kelembagaan negara. Tidak ada parameter yang jelas bagi fungsi-fungsi lembaga kenegaran. Untuk itu, Cak Nun mengajak para jamaan untuk segera manunggal dengan Allah, dan inilah padatan dari yang disebut pasca-Agustus bagi jamaah Maiyah. Lebih jauh Cak Nun menjelaskan, kalau bukan karena pertolongan Allah, 2009 akan kacau. Siapapun pemimpinnya, Indonesia akan ditimpa chaos. []

0 komentar: